LOVEBANDUJG.com | Oleh: Gina Bela Cantika
Aku cemburu pada mereka yang dengan harta mampu membantu sesama meski tengah berjuang.
Aku cemburu pada yang bisa mendidik dirinya agar tidak merasa tinggi hati, sehingga tak merendahkan orang-orang yang kerap diperlakukan buruk oleh mereka yang mengaku terdidik.
Aku cemburu pada mereka yang bisa menyekolahkan anak-anak mereka untuk meraih mimpi.
Hatiku menjerit tanpa suara. Bibirku kelu, lelah berandai pada realita. Haha, sudahlah! Hidupku ini hanya fatamorgana. Jangan bermimpi menjadi selebriti kaya raya; bisa mandi sehari sekali dengan setengah ember air saja sudah untung, meski tidak sepenuhnya membersihkan tubuhku dari segala hama.
Aku hanyalah seorang duda miskin. Menjadi ayah dalam keadaan ‘katanya’ serba kekurangan ini sungguh sulit. Kurang uang, kurang gizi, bahkan kurang tinggi badan.
Lelah mengutuki nasib yang tak memberi kesempatan untuk bersekolah, semua karena alasan biaya. Hal klise ini sangat memuakkan. Aku merasa cemburu jika anakku juga terjerat dalam kebodohan.
Angin sepoi-sepoi membawa lamunanku terbang jauh, seakan menyapa purnama, mengingatkanku pada kata-kata para pelancong yang menganggapku sampah jalanan saat aku memungut sisa makanan dan minuman mereka.
Jika seorang pemulung bisa berpendapat, menurutku, julukan itu lebih pantas disematkan kepada mereka yang dengan kelicikan akal dan perilaku menyengsarakan orang lain.
“Pokoknya aku nggak mau sekolah.” Hatiku hancur mendengarnya. Semua ini salahku. Aku mengajaknya keluar dari gubuk dan duduk membelakangi pintu.
“Lihat itu,” ujarku, menunjuk cahaya bintang.
“Kelap-kelip.”
Aku tersenyum simpul. “Ilmu juga seperti itu. Ilmu adalah cahaya, aset berharga.
Saat kamu punya ilmu, kamu bisa jadi seperti bintang, menebarkan cahaya untuk dirimu sendiri, untuk ayah, dan orang lain. Jangan cemburu pada mereka yang kaya, tapi cemburulah pada mereka yang kaya akan ilmu.
Sekolah adalah salah satu ikhtiar kita untuk mencarinya. Jadi, anak ayah harus semangat untuk sekolah, ya?”
Aku tersenyum lega saat melihatnya mengangguk mantap.
Aku tidak tahu seberapa pedih kehidupan orang-orang yang lebih miskin. Benar, rasa syukur selalu mengandung makna istimewa.
Tuhan mengingatkanku akan kebenaran firman-Nya: bahwa bersamaan dengan kesulitan akan ada kemudahan, bersama hujan akan ada pelangi, dan bersama kesedihan akan ada kebahagiaan. Aku hanya ingin cemburu pada mereka yang, meski dalam keadaan sempit, masih bisa mewujudkan mimpi.*