Prof. Hasim Purba: Total, Tulus, Transformer

Kampus bukan istana, istana, istana, namun kampus lebih mirip rumah panggung  berserambi di kampung: terbuka.

LOVEBANDUNG.com : Di kampung-kampung Melayu, ada petuah lama: “Kayu yang tumbuh di tanah gambut, meski akar terendam, tetap mencari cahaya langit.”

Kekira, begitu tamsil yang pas untuk menggambarkan Prof. Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum.—guru besar ilmu hukum perdata Universitas Sumatera Utara, yang memilih tidak sekadar tumbuh di menara gading. Tetapi mengakar di tanah rakyat. Lalu menjulang mencari cahaya keadilan.

Seperti kisah hukum dalam “mazhab” Grishamian,  jalan yang ia tempuh tak pernah lapang. Hasim yang tulus itu mafhum hukum sering kali direbut, dipelintir, dan diperdagangkan oleh kepentingan.

Tapi oh tapi, Prof Hasim sang pemilik catatan kuliah rapih dan lengkap yang amba konal itu,  bukan hakim bayangan yang bermain aman.

Pada DNA-nya adalah figur saksi sekaligus pejuang, yang sejak lama menulis satu kalimat besar dalam catatan jalan halal hela hidupnya: “Hukum harus kembali kepada manusia, bukan manusia yang tunduk kepada tipu daya mengaku hukum.”

Hasim Purba sosok yang tenang dan suka damai tetapi mengasuh akal pikiran yang berarsiran nalar hukum yang tumbuh dalam budinya yang berhasrat mengaktivasi gagasan progresif: revitalisasi hak ulayat sebagai benteng masyarakat adat, tanah untuk rakyat sebagai janji konstitusi. Dan, hukum sebagai samburetan—senjata rakyat kecil menghadapi gempuran modal, oligark, dan birokrasi sengak.

Bagi Prof Hasim, hukum bukan batu nisan yang dingin, melainkan obor yang menyala walau tersuruk di tengah lorong sempit drama  kehidupan.

Namun hidupnya bukan hanya teks akademik zaman purba yang berdebu. Dia yang suka menyanyikan lagu batak sendu itu adalah sosok religius plus, pernah dua kali memimpin Majelis Daerah KAHMI Medan, teguh dalam “iman” advokasi pembela rakyat, tetapi terbuka pada jalan halal perubahan. Ia seperti alegori tabut kayu dalam gendang Melayu—yang kuat menahan, tapi elastis dalam menjaga molek irama.

Saat iki dirinya memimpin Program Kenotariatan USU yang tandem dengan Prof. Dr. Rosnidar Sembiring SH.M.Hum sesama stambuk 1985.  Prof Purba bukan sekadar pejabat struktural, melainkan penjahit halus perkawanan tulus yang tabah menenun antara disiplin ilmu, praktik hukum, dan pengabdian sosial.

Kini dia menapak medan berat: mendaftarkan diri maju penjaringan calon Rektor USU.

Kata banyak opini publik dan celoteh orang di panggung media digital yang terjal, Medannya seperti panggung drama novel hukum sure-realist a la John Grisham: penuh intrik, tip and trik, lobi dan imaji, dan tarung kepentingan.

Di sana pastinya ada mereka yang soor dalam zona nyaman dengan legitnya status quo, betah di kursi empuk sambil menutup mata pada pertanyaan kritis akan reputasi kampus yang dibincang-bincangkan orang.

Prof. Hasim Purba kudu datang tapi datang bukan sembarang datang, maju dengan membawa daftar sokongan, namun kudu diasupkan pula amanat publik sebagai modal berjuang yang lain walau bukan “agak laen”, yaitu: IKA (Integritas, Keberanian, Amanah), dan 3T—Total, Tulus, Transformer. Sebut saja: IKA 3T.  Total, karena dia utuh dalam menjalankan amanah. Tulus, karena dedikasinya bukan kosmetik karier, melainkan ibadah. Transformer, karena ia berani mengguncang zona nyaman untuk menyalakan mesin perubahan.

Semua kudu sadar, bahwa membangun teamwork di USU itu ibarat menyeberangi sungai deras: ada pusaran arus,  ada buaya menunggu di muara.

Ketahuilah Prof. HP, seperti kata bertenaga khazanah pepatah Batak: “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru” . Hormat, hati-hati, dan bijak merangkul akan membuat perahu selamat sampai seberang.

Bagi pengamat gaya nalaritas Hasim yang amba kenal sejak 1985 di kamar kosnya Jalan Dipanagara, kampus apa pun adalah bukan istana sunyi yang terputus akses dari realitas.

Kampus bukan istana, istana, istana, namun kampus lebih mirip rumah panggung  berserambi di kampung: terbuka,  lega menerima tamu, melindungi keluarga, dan kokoh menghadapi banjir.

USU yang amba bayangkan itu adalah mercusuar dunia yang tetap menyalakan lampu untuk cahaya nelayan kecil di pesisir pantai timur,  petani Tapanuli, pekebun di Tanah Karo dan Deli Serdang, maupun pedagang kopi di Mandailing dan peracik mie balap di batas kota Medan

Akrab dengan mahasiswa dan aktivis, Hasim Purba bukan sekadar guru besar. Ia kudu membolo gairah kaum intelektual organik otentik yang menjembatani teori dan praktik, kohesi kampus dan kampung, leader pemihakan teks hukum kepada pejuang tanah ulayat, dan kampus yang berhasil menemukan irisan spirit John Grisham yang berani menelanjangi ketidakadilan, dan tondi Andrea Hirata yang bisa mengubah hukum menjadi puisi hidup.

USU kudu loyal dalam misi keadilan yang hidup. Menjadikan USU bukan hanya pengabdi  diri dan kami, akan tetapi sebagai pengabdi bangsa, seperti sepotong lirik Mars USU.

Dan pada titik inilah, kepada Prof. Hasim Purba, sebagai kawan pantas amba titipkan jalan amanah ini: menanjakkan reputasi  akademik USU, menjaga nurani akademik organik otentik, dan mengembalikan nalaritas juncto akal sehat sebagai aset terbesar pemajuan kampus dari masa ke masa.

USU menjadi ibu asuh pengabdi bangsa. Sang almamater yang melahirkan ahli hukum-cum-lawyer yang cemerlang namun maju tak gentar membela keadilan yang hidup.

USU kudu tabah menciptakan klinisi medis berkelas a la  The Good Doctor, orang baik yang pakar kedokteran. Yang lahir dan tumbuh kembang dari kawah  pembinaan profesi dokter yang dijuluki kaum penolong (helping profesion).

Itu  sesobek catatan lama untuk menyebut asa pada dua fakultas tertua di USU kita. Asa yang kudu hidup dan  berkokok, bagai alegori ayam yang pantang mati di lumbung padi.

Karena universitas bukan hanya menara, tapi juga pelita yang memberi arah bagi masyarakat, bangsa, bahkan penduduk bumi manusia. Tabik. (Muhammad Joni).