Rektor ITB Sebut Museum Baru Sebagai Ruang Inspirasi Masa Depan dan Pembelajaran Sejarah
LOVEBANDUNG.com, BANDUNG — Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, menegaskan kehadiran Museum ITB yang baru saja diresmikan bukan sekadar tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, melainkan sebuah ruang pengetahuan dan inspirasi untuk masa depan.
“Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Ini adalah ruang pengetahuan, ruang refleksi, ruang dialog, dan ruang inspirasi. Tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga sumber pembelajaran untuk masa depan,” ujar Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, pada peresmian Museum ITB dibuka untuk publik setelah diresmikan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan Sinta Nuriyah Wahid, di Kampus ITB, Bandung, Jumat (3/7/2026).
Peresmian tonggak sejarah ini ditandai dengan prosesi pengguntingan pita serta penandatanganan prasasti oleh Menteri Kebudayaan bersama Rektor ITB. Acara seremonial tersebut turut disaksikan dan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Sinta Nuriyah Wahid, Dato’ Low Tuck Kwong, Filda Yusgiantoro, hingga maestro seni patung kenamaan Nyoman Nuarta.
“Museum merupakan etalase budaya dan etalase peradaban. Ini bukan tempat penyimpanan artefak, tetapi memori kolektif sebuah institusi. ITB adalah institusi penting yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa, sehingga keberadaan museum ini menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan memori kolektif tersebut,” kata Fadli Zon.
Pembangunan Museum ITB ini sendiri merupakan perwujudan dari mimpi bersama para penggagas yang telah melalui proses panjang selama delapan tahun. Sebagai ruang interaktif dan partisipatif, museum ini dirancang untuk merawat seluruh memori perjalanan panjang ITB sejak awal berdirinya sebagai Technische Hoogeschool te Bandoeng pada tahun 1920 silam.
“Kita ingin menggerakkan setiap perguruan tinggi, terutama yang telah berusia lebih dari 50 tahun, memiliki museum. Indonesia saat ini memiliki sekitar 516 museum yang teregistrasi, dan dengan hadirnya Museum ITB kita berharap jumlah itu terus bertambah. Museum harus menjadi ruang yang hidup, dikunjungi masyarakat, menginspirasi generasi muda, sekaligus menjadi bagian penting dari ekonomi budaya Indonesia,” tambah Fadli Zon.
Secara fasilitas, Museum ITB menyajikan pengalaman edukasi yang modern dengan menghadirkan empat zona utama, yaitu Akar Sejarah ITB, Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan, Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa, serta Inspirasi Masa Depan. Pengunjung juga disuguhkan fasilitas teknologi digital mutakhir berupa 360 Theater Dome yang memberikan pengalaman imersif.
Melalui peresmian Museum ITB, Kementerian Kebudayaan berharap semakin banyak perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat berkolaborasi membangun museum sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan penguatan identitas bangsa, sejalan dengan amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional.
Acara peresmian ini turut dihadiri oleh sederet tokoh besar, di antaranya Yenny Wahid, Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, serta jajaran donatur seperti Yani Panigoro, Nurhayati, dan Subakat Hadi. Turut mendampingi Menbud ialah Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, Direktur Sejarah dan Permuseuman Prof. Agus Mulyana, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat Retno Raswaty. (dja)