Soroti Pasien Menunggu 12 Jam, Dedi Mulyadi: Tidak Boleh ada Antrean Panjang di Rumah Sakit
"pasien terpaksa dibantarkan di lorong lorong IGD menunggu pasien rawat inap keluar untuk bisa ditempatkan di kamar rawat inap secara bergantian"
LOVEBANDUNG.com : Gubernur Jawa Barat terpilih Dedi Mulyadi menekankan penting birokrasi yang nanti akan di pimpinnya untuk memenuhi janji kampanye yang telah disampaikan kepada masyarakat. Janji kampanye yang disoroti Dedi Mulyadi di antaranya, pendidikan, pelayanan kesehatan dan perbaikan infrastruktur.
Sebagaimana diketahui anteran di sejumlah rumah sakit seperti di Kota Bandung, pasien harus menunggu seharian untuk mendapat ruang rawat inap.
Hal ini dialami seorang pasien mahasiswi dan pasien lainnya pada akhir pekan lalu di salah satu rumah sakit di Kota Bandung, terpaksa menunggu 12 jam lebih di Instalasi Gawat Darurat (IGD), untuk mendapat kamar rawat inap.
Para petugas di rumah sakit tersebut mengatakan, lamanya pasien mendapat kamar rawat inap dikarenakan semua kamar penuh. Bahkan, petugas rumah sakit telah merekomendasikan tiga rumah sakit untuk dipindah namun semua tidak ada konfirmasi karena kamar rawat inap penuh.
“Sudah tiga rumah sakit kami rekomendasikan untuk pasien rawat inap, tetapi belum ada konfirmasi dari tiga rumah sakit tersebut,” ungkap seorang suster jaga kepada keluarga pasien, Jumat 17 Januari 2025.
Penumpukan pasien akibat kondisi rumah sakit penuh hingga terjadi antrean panjang. Akibatnya, pasien terpaksa dibantarkan di lorong lorong IGD menunggu pasien rawat inap keluar untuk bisa ditempatkan di kamar rawat inap secara bergantian.
Dedi menyoroti perlunya perbaikan layanan kesehatan dengan meningkatkan kapasitas rumah sakit di seluruh wilayah Jawa Barat agar setara.
“Tidak boleh ada lagi antrean panjang di rumah sakit. Semua rumah sakit harus punya kemampuan yang sama,” ungkap Dedi usai rapat membahas Tim Transisi bersama dengan Penjabat Gubernur Jabar Bey Machmudin, di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu 22 Januari 2025.
“Seluruh janji kampanye saya harus direalisasikan. Prioritas kami adalah layanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, listrik, air bersih, dan perumahan,” lanjut mantan Bupati Purwakarta itu.
Dalam bidang infrastruktur, Dedi menegaskan tidak boleh ada lagi jalan rusak atau berlubang.
“Kualifikasi jalan akan diperbaiki, disesuaikan dengan fungsinya, apakah untuk daerah pertanian atau industri,” ujarnya.
Selain itu, Dedi juga menargetkan penyediaan listrik bagi 140.000 warga yang saat ini belum terlayani. Maka dari itu, Dedi menekankan efisiensi anggaran.
“Pasti ada nomenklatur (di APBD) yang digeser, besarannya yang diubah. Angka-angka yang dianggap tidak efisien dan tidak produktif akan dicoret. Inilah yang akan didorong,” kata Dedi.
Dari efisiensi anggaran itu, Dedi menjanjikan akan ada tambahan anggaran signifikan pada APBD Perubahan 2025 untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat.
“Setelah saya menganalisis (APBD Murni), maka ditemukan angka yang mudah-mudahan bisa di atas Rp2 triliun untuk belanja publik di (APBD) Perubahan,” ungkapnya.
Dedi juga mengapresiasi inisiatif Penjabat Gubernur Bey Machmudin membentuk tim transisi yang terdiri dari ASN Pemda Provinsi. “Ini memastikan kesinambungan dalam pelaksanaan kebijakan,” ucap Dedi.
Sebelumnya, Penjabat Gubernur Bey Machmudin dan Gubernur Jabar terpilih Dedi Mulyadi sepakat mengakselerasi dan menyelaraskan pembangunan menjelang pelantikan Gubernur/Wakil Gubernur Jabar periode 2025 – 2030.
“Postur APBD nanti akan lebih cepat lagi mengakselerasi pembangunan,” kata Bey.
Bey mengatakan penyesuaian program Pemda Provinsi dengan visi misi Gubernur terpilih saat ini sedang berjalan. Salah satu fokus yang disorot Gubernur terpilih adalah perbaikan jalan.
“Beliau (Dedi Mulyadi) menekankan pentingnya memperbaiki infrastruktur jalan, agar perjalanan antarwilayah lebih nyaman. Ini tentu sangat positif,” tuturnya. (lvb)