Bangun ‘Embrio’ Pekerja Migran, Syahrir: Keren! Lulusan Sekolah Kerja Go Internasional

"Ini adalah embrio pekerja migran yang berkualitas. Sosialiasi yang sudah dibangun Cadisdik Wilayah III ke sekolah-sekolah menjadi kunci utama keberhasilan program ini."

LOVEBANDUNG.COM : Peluang emas bagi kaum muda Jawa Barat hadir di Tasikmalaya. Melalui kolaborasi Pemkab Tasikmalaya, Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) dan Migran Indonesia Asisten (MIA), lebih dari 500 peserta mengikuti interview langsung untuk sektor perhotelan dan pabrik di Turki yang digelar di Gedung Islamic Center Tasikmalaya, Rabu (14/1/2026).

Anggota Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.Pol, menyebut kolaborasi ini sebagai “solusi global” bagi lulusan sekolah SMK/SMA dan perguruan tinggi.

“Ini adalah embrio pekerja migran yang berkualitas. Sosialiasi yang sudah dibangun Cadisdik Wilayah III ke sekolah-sekolah menjadi kunci utama keberhasilan program ini,” ungkap Syahrir saat dikonfirmasi, Rabu (14/1/2026).

Syahrir berharap program ini dapat menjadi gaya hidup baru bagi lulusan muda di Jawa Barat untuk berani berkarier di pasar global sekaligus memperbaiki taraf ekonomi keluarga.

“Kolaborasi job fair ini menjadi solusi bagi lulusan SMK/SMA dan perguruan tinggi untuk menembus pasar global atau go internasional. Ini adalah upaya nyata mengurangi angka pengangguran di Jawa Barat maupun Indonesia,” ujarnya.

Menurut Syahrir, inisiatif ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk membuka satu juta lapangan kerja ke luar negeri.

“Untuk satu kabupaten saja, calon pekerja migran sudah lebih dari 500 orang yang ikut interview dalam sehari. Jika dalam setahun diadakan empat kali, maka ada sekitar 2.000 calon pekerja dari satu wilayah,” papar legislator dari Fraksi Gerindra tersebut.

Anggota Komisi I DPRD Jabar ini pun memberikan rincian matematis mengenai dampak besar program ini jika diterapkan secara masif di seluruh wilayah Jawa Barat.

“Jika dikalikan 27 kota/kabupaten di Jawa Barat, maka bisa terserap 54 ribu pekerja migran. Ini setara dengan mengurangi 5,4 persen angka pengangguran di Jawa Barat,” jelasnya.

Data menunjukkan bahwa saat ini Jawa Barat menduduki posisi ketiga tertinggi nasional dalam hal pengangguran dengan persentase 6,77%, atau menyentuh angka 1,78 juta orang.

Syahrir mendorong agar kolaborasi antara pemerintah daerah, APJATI, dan MIA terus diperkuat. Ia mencontohkan langkah proaktif yang telah dilakukan Cabang Dinas Pendidikan (CADISDIK) Wilayah III Jawa Barat yang melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, pada Selasa (13/1/2026).

“Sosialisasi dengan sekolah-sekolah merupakan embrio lahirnya pekerja migran yang kompeten. Ini adalah solusi jangka pendek dan menengah yang efektif untuk mengurangi beban pengangguran kita yang cukup besar,” tutup Syahrir. (ami)