MIA Revolusi Digital Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Berbasis AI

LOVEBANDUNG.com : Inovasi digital bernama MIA (Migrant Indonesia Assistant) resmi diluncurkan sebagai solusi komprehensif bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Platform berbasis Artificial Intelligence (AI) ini dirancang untuk memberantas praktik percaloan, penipuan, hingga penelantaran pekerja di luar negeri dengan memfasilitasi proses pendaftaran, pelatihan, hingga pemantauan real-time.

“Dengan aplikasi ini tidak ada penipuan, misalnya dijanjikan kerja di restoran ternyata dibawa ke perkebunan. Tidak ada lagi. Juga tidak ada penahanan ijazah dan penelantaran,” ungkap penggagas MIA, Veroliyondo Jamal, dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Aplikasi ini merupakan buah pemikiran Veroliyondo yang akrab disapa Ando, seorang pengusaha investasi regional yang juga mantan pekerja migran di Malaysia selama 40 tahun. Terinspirasi dari kisah sukses Nadiem Makarim dengan Gojek, Ando membangun MIA (yang secara teknis disebut Migrant Intelligent Architecture) untuk memastikan PMI terhubung dengan pemberi kerja secara legal dan aman.

“Selama 40 tahun saya jadi pekerja migran di Malaysia, saya merasakan suka dukanya dan memahami problem-problemnya,” kata Ando yang juga Direktur Quantephi Investment Firm (Malaysia), Direktur PT Bintang Timur Investama (Indonesia), dan Direktur Investasi di Infotech Professionals Pty Ltd (Australia).

Menurutnya, MIA tidak hanya sekadar jembatan kerja, tetapi juga solusi finansial. Bekerjasama dengan lembaga keuangan, platform ini menyediakan dana talangan bagi pekerja yang telah lulus seleksi untuk mengurus paspor, tiket, dan biaya keberangkatan tanpa harus pusing mencari modal awal.

“Pekerja Migran yang sudah lolos seleksi tak perlu mencari modal buat bikin paspor, tiket pesawat, bekal di jalan, dan lain-lain. Ada dana disiapkan, yang nantinya dipotong bulanan dari gajinya lewat aplikasi,” tambah Ando.

Dukungan politik pun mengalir kuat, datang dari anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, H. Syahrir, S.E., M.I.Pol., turut menggandeng MIA untuk melakukan sosialisasi ke ratusan SMK guna menyiapkan tenaga terampil (skill worker).

Langkah ini dinilai sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat pengiriman pekerja migran berkualitas ke Eropa dan negara lainnya.

“Sebagai anggota dewan saya mendukung platform ini, yang secara langsung membantu program Pak Prabowo untuk mengirim pekerja terlatih ke luar negeri. Semoga dengan aplikasi ini bisa mempercepat implementasinya,” tegas H. Syahrir.

Tak hanya di dalam negeri, MIA juga mendapat sambutan positif dari politisi Malaysia, Mohd Fakhrulrazi dari PKR. Kerjasama ini krusial mengingat Malaysia adalah salah satu tujuan favorit PMI, namun sering kali menghadapi kendala pekerja migran yang terlantar dari berbagai negara.

“Malaysia perlu tahu dan perlu kerjasama dengan platform ini. Karena kami menghadapi problem banyaknya pekerja migran yang terlantar, selain dari Indonesia juga pekerja migran Bangladesh,” ungkap perwakilan dari Malaysia tersebut.

Secara teknis, aplikasi yang tersedia di Google Play dan App Store ini menawarkan fitur lengkap, mulai dari wawancara otomatis berbasis AI, pengurusan dokumen, hingga fitur pengiriman uang (remitansi) ke kampung halaman yang aman dan murah bagi para pekerja.

“Misalnya pekerja dapat gaji Rp10 juta, dipotong cicilan dokumen dan tiket Rp1 juta, lalu transfer buat keluarga Rp2,5 juta, sisanya dia pegang. Itu semua bisa diatur di platform MIA,” jelas Ando.

Keunggulan lain dari MIA adalah transparansi bagi pemberi kerja (employer). Pengusaha di luar negeri kini dapat melihat langsung kualifikasi pekerja secara digital, sehingga proses rekrutmen massal dapat dilakukan dengan cepat tanpa mengorbankan standar kualitas yang diinginkan.

“Kami bekerja dengan perusahaan asuransi untuk mengantisipasi pekerja yang pulang sebelum cicilannya lunas,” tutup Ando mengenai sistem pengamanan finansial dalam aplikasi tersebut. (dja)