Polemik Razia Rambut SMKN 2 Garut, Gubernur Rapihkan Rambut 18 Siswi ke Salon
Aksi tim BK didasari akumulasi laporan mengenai pelanggaran disiplin siswa yang mewarnai rambut.
LOVEBANDUNG.com : Menanggapi aksi pemotongan rambut secara paksa terhadap belasan siswi di SMKN 2 Garut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengambil langkah cepat dengan menemui para korban dan orang tua mereka. Sebagai langkah awal pemulihan mental dan penampilan para siswi, Gubernur memfasilitasi 18 siswi untuk merapikan kembali rambut mereka di salon profesional.
“Kemarin orang tua siswanya sudah ketemu saya, siswanya sudah ketemu. Jumlah semuanya 18 orang, sudah selesai. Kemarin sudah saya kirim mereka ke salon untuk merapikan rambut semuanya,” ungkapnya, Rabu (6/5/2026).
Gubernur menambahkan, detail mengenai isi pertemuan dan penanganan kasus ini akan dipublikasikan secara transparan agar masyarakat mendapatkan gambaran utuh.
“Nanti sore ada tayangan lengkapnya di YouTube saya agar bisa dilihat dengan jelas apa yang dilakukan,” ucapnya.
Kronologi Kejadian
Peristiwa pemotongan rambut secara paksa terjadi pada Kamis (30/4/2026) di lingkungan SMKN 2 Garut. Sejumlah siswi yang baru saja menyelesaikan mata pelajaran olahraga secara mendadak didatangi oleh guru bimbingan konseling (BK).
Guru tersebut langsung melakukan razia terhadap siswi yang memiliki rambut berwarna dengan menggunakan gunting.
Aksi ini memicu protes keras dari orang tua murid karena dianggap dilakukan secara semena-mena, bahkan menyasar siswi yang mengenakan kerudung.
Respons Pihak Sekolah
Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon pun membenarkan adanya tindakan pemotongan rambut tersebut.
Menurutnya, aksi tim BK didasari akumulasi laporan mengenai pelanggaran disiplin siswa yang mewarnai rambut.
“Terjadi pemotongan rambut anak yang diwarnai karena akumulasi laporan dari wali kelas dan masyarakat bahwa anak SMK rambutnya berwarna,” jelasnya.
Meski demikian, pihak sekolah mengaku sudah berupaya menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan menyampaikan permohonan maaf kepada para siswi yang terdampak. “Kita juga sudah meminta maaf kepada siswi tersebut,” pungkasnya. (rdj)