Belajar dari Shanghai: Ketika Kota Dibangun untuk Manusia, Bukan Sekadar Kendaraan
Oleh: Abdullah Rasyid (Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN yang sedang melakukan Study Strategis di Shanghai).
LOVEBANDUNG.com : Ada satu hal yang langsung terasa ketika berjalan di Shanghai: kota ini terasa sibuk, tetapi tidak semrawut. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat, manusia bergerak dalam jumlah besar, pusat bisnis hidup hampir 24 jam, tetapi kota tetap terasa tertata. Orang bisa berjalan kaki dengan nyaman, transportasi publik mudah dijangkau, ruang hijau hadir di tengah kepadatan, dan kawasan usaha tidak terasa memakan ruang hidup masyarakat.
Shanghai memberi pelajaran penting bahwa kota modern bukan sekadar kumpulan gedung pencakar langit. Kota modern adalah kota yang tahu untuk siapa ruang dibangun.
Banyak kota di Indonesia hari ini tumbuh cepat, tetapi sering kehilangan arah. Jalan diperlebar, flyover dibangun, pusat perbelanjaan bertambah, apartemen menjulang, tetapi kualitas hidup warga tidak selalu membaik. Kemacetan tetap menjadi rutinitas, trotoar sering berubah fungsi menjadi parkir atau lapak, dan jarak antara tempat tinggal dengan tempat kerja makin melelahkan.
Di sinilah Shanghai menarik untuk dipelajari.
Cina, khususnya Shanghai, membangun kotanya dengan disiplin jangka panjang. Mereka memiliki Shanghai Master Plan 2017–2035, sebuah cetak biru pembangunan kota yang tidak hanya berbicara soal ekonomi, tetapi juga kualitas hidup. Kota dibagi dengan jelas: mana pusat bisnis, mana kawasan pemukiman, mana koridor hijau, mana pusat inovasi, hingga bagaimana manusia bergerak dari satu titik ke titik lain.
Yang menarik, Shanghai tidak membiarkan kota tumbuh liar mengikuti pasar semata. Negara hadir mengatur arah pembangunan. Pemerintah menentukan kawasan mana yang menjadi pusat ekonomi, kawasan mana yang menjadi penyangga pemukiman, hingga batas kepadatan bangunan. Hasilnya adalah kota yang tetap hidup tanpa kehilangan kendali.
Lihatlah kawasan Pudong. Dulu wilayah ini hanyalah area pinggiran di seberang Sungai Huangpu. Kini Pudong berubah menjadi salah satu pusat keuangan paling modern di dunia. Gedung seperti Shanghai Tower atau kawasan Lujiazui bukan sekadar simbol kemewahan, tetapi bagian dari strategi ekonomi nasional Cina.
Namun yang lebih penting, kawasan bisnis di Shanghai tidak berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan hunian, transportasi publik, pedestrian, ruang terbuka hijau, hingga pusat komunitas. Orang tidak harus menghabiskan tiga sampai empat jam di jalan hanya untuk bekerja.
Shanghai memahami satu hal sederhana: kota yang sehat adalah kota yang mendekatkan manusia dengan aktivitas hidupnya.
Konsep ini dikenal sebagai 15-minute city. Sekolah, taman, klinik, pusat belanja, transportasi, hingga ruang publik diupayakan bisa diakses dalam 15 menit berjalan kaki atau bersepeda. Konsep ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar: kemacetan berkurang, polusi turun, stres masyarakat menurun, dan kualitas hidup meningkat.
Bandingkan dengan banyak kota besar di Indonesia. Kawasan bisnis terkonsentrasi di satu titik, sementara perumahan tumbuh jauh di pinggiran tanpa transportasi memadai. Akibatnya, jutaan orang hidup dalam pola “berangkat sebelum matahari terbit, pulang setelah gelap malam”.
Kota akhirnya bukan menjadi ruang hidup, melainkan sekadar ruang bertahan.
Shanghai juga memberi pelajaran penting tentang pedestrian. Di Indonesia, trotoar sering dianggap fasilitas tambahan. Padahal di kota-kota maju, pedestrian adalah simbol peradaban kota.
Nanjing Road di Shanghai menjadi contoh menarik. Kawasan pedestrian ini dibuat luas, nyaman, terang, ramah wisatawan, terhubung dengan transportasi publik, dan dipenuhi aktivitas ekonomi. Orang berjalan kaki bukan karena terpaksa, tetapi karena nyaman.
Di sana, ruang kota dikembalikan kepada manusia.
Sementara di banyak kota kita di Indonesia, pejalan kaki justru sering menjadi “warga kelas dua”.
Trotoar sempit, rusak, dipenuhi tiang, parkir liar, bahkan pedagang yang muncul karena absennya penataan. Tidak heran masyarakat akhirnya lebih memilih kendaraan pribadi.
Padahal semakin banyak kendaraan pribadi, semakin kota kehilangan kualitas hidupnya.
Shanghai juga menunjukkan bahwa ruang publik bukan pemborosan anggaran. Taman kota, waterfront, jalur hijau, dan pedestrian justru menjadi sumber ekonomi baru. Kawasan yang nyaman menciptakan aktivitas wisata, UMKM, hiburan, dan interaksi sosial yang sehat.
Artinya, kota yang manusiawi ternyata juga menguntungkan secara ekonomi.
Pelajaran terbesar dari Shanghai sebenarnya bukan soal gedung tinggi atau teknologi canggih. Intinya ada pada keberanian pemerintah menjaga arah pembangunan kota secara konsisten.
Mereka sadar bahwa kota tidak boleh tumbuh tanpa visi.
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk membangun kota yang lebih manusiawi. Tetapi itu membutuhkan perubahan cara berpikir. Pembangunan kota tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beton, jalan layang, atau proyek mercusuar. Kota harus diukur dari seberapa nyaman manusia hidup di dalamnya.
Apakah warga bisa berjalan kaki dengan aman?
Apakah anak-anak punya ruang bermain?
Apakah pekerja bisa pulang tanpa menghabiskan separuh hidup di jalan?
Apakah ruang publik dapat dinikmati semua lapisan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar citra “kota modern”.
Shanghai membuktikan bahwa kota maju bukanlah kota yang penuh kendaraan, melainkan kota yang memberi ruang bagi manusia untuk hidup dengan lebih layak.
Dan mungkin, di situlah kita perlu mulai belajar. **