LOVEBANDUNG.com | BANDUNG — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan keras bagi para orang tua untuk tidak memberikan telur mentah maupun half-cooked (setengah matang) kepada bayi dan anak-anak. Praktik ini dinilai sangat berisiko memicu infeksi bakteri serius pada saluran pencernaan.
“Pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan aspek keamanan pangan,” ujar Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat IDAI, dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa (13/10/2026).
Bahaya Salmonella & Risiko Fatal
Ancaman utama dari pemberian telur yang tidak matang sempurna adalah kontaminasi bakteri Salmonella (salmonelosis). Pada tubuh bayi yang daya tahannya belum sempurna, infeksi ini bisa menimbulkan dampak fatal seperti diare akut, demam tinggi, muntah, hingga dehidrasi parah.
“Pemberian telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak. Selain risiko infeksi, telur mentah tidak memberikan keuntungan gizi yang membenarkan risikonya,” jelas Dr. Piprim.
Telur Matang Sempurna Tetap Superfood MPASI
Meski dilarang dalam kondisi half-cooked, telur yang diolah hingga matang sempurna tetap menjadi salah satu sumber protein hewani terbaik. IDAI juga meluruskan anggapan keliru mengenai penundaan pemberian telur demi mencegah alergi.
“Telur matang adalah sumber gizi yang baik. Tidak diperlukan penundaan pemberian telur hingga usia satu tahun semata-mata untuk mencegah alergi, kecuali ada pertimbangan medis khusus,” terangnya.
Panduan Baku MPASI Menurut IDAI
Selain masalah keamanan pangan, IDAI mengingatkan kembali aturan dasar dalam pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI):
ASI Eksklusif: Tetap menjadi makanan terbaik hingga bayi berusia 6 bulan tanpa perlu tambahan air putih, jus, maupun kaldu.
Waktu MPASI: Secara umum dimulai saat bayi genap berusia 6 bulan.
Pertimbangan Khusus: MPASI paling cepat diberikan pada usia 4 bulan (17 minggu) hanya jika ada evaluasi dan indikasi medis ketat dari dokter.
“Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan. Pemberian sejak usia empat bulan bukan rekomendasi rutin, melainkan pertimbangan individual berdasarkan penilaian dokter,” tegas Dr. Piprim.
Kenali Tanda Kesiapan Bayi & Higienitas
Sebelum memberikan MPASI padat, pastikan fisik bayi sudah siap: leher kokoh dan tegak, bisa duduk dengan bantuan, memiliki refleks menelan yang baik, serta antusias melihat makanan. Tekstur makanan yang tidak sesuai usia berisiko memicu bayi tersedak.
Sebagai penutup, IDAI mengimbau orang tua untuk selalu menjaga kebersihan dapur, rutin mencuci tangan, memisahkan alat masak bahan mentah dan matang, serta memastikan cangkang telur utuh tanpa retak saat dibeli. (nee)