Bangsa, Mengawal Fajar Kedaulatan Negara

Oleh: H. Syahrir, SE, M.I.POL Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Gareulis Nasional.

LOVEBANDUNG.com : SERATUS delapan belas tahun yang lalu, momentum berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 menjadi fajar budi bagi kesadaran berbangsa. Hari itu kita sepakati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)—sebuah titik balik ketika perjuangan fisik yang kedaerahan mulai bertransformasi menjadi perjuangan yang terorganisir, cerdas, dan berasaskan persatuan nasional.

 

Hari ini, di tahun 2026, kita kembali memperingati Harkitnas yang ke-118. Zaman telah berubah, tantangan pun telah bergeser. Jika dulu musuh kita adalah kolonialisme fisik, hari ini tantangan nyata kita adalah bagaimana mempertahankan eksistensi dan kedaulatan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan perang informasi.

Oleh karena itu, peringatan Harkitnas ke-118 tahun ini mengusung tema yang sangat kontekstual dan visioner “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.

Membina Karakter, Melindungi Masa Depan

Tema ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya investasi kemanusiaan. Tunas bangsa—anak-anak kita, generasi muda kita—adalah aset paling berharga yang dimiliki oleh Republik ini. Menjaga tunas bangsa berarti kita harus mengambil peran aktif untuk:

Membina dengan Ilmu dan Literasi: Menyiapkan mereka dengan kapasitas intelektual yang mumpuni agar mampu bersaing di kancah global.

Melindungi dari Ancaman Zaman: Membentengi mereka dari degradasi moral, paparan radikalisme, serta dampak negatif digitalisasi.

Mendidik dengan Karakter: Menanamkan nilai-nilai Pancasila, budi pekerti, dan rasa cinta tanah air yang kokoh sebagai fondasi utama bangsa.

Tanpa karakter yang kuat, generasi muda kita akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan asing. Sebaliknya, dengan fondasi mental dan intelektual yang tangguh, mereka akan tumbuh menjadi tiang penopang negara yang kokoh.

Pemuda sebagai Pilar Kedaulatan NKRI

Kedaulatan sebuah negara tidak hanya diukur dari kekuatan militer atau kekayaan alamnya, melainkan dari kualitas manusia yang mengawalnya. Pemuda dan tunas bangsa adalah pilar utama dalam mempertahankan kemandirian serta kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di masa depan.

Di pundak merekalah keberlanjutan estafet kepemimpinan bangsa ini dititipkan. Ketika kita berhasil menjaga, mendidik, dan mengarahkan tunas bangsa hari ini, kita sedang mengamankan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian budaya Indonesia di masa depan.

Panggilan Aksi bagi Kita Semua

Sebagai bagian dari elemen bangsa, baik di jajaran pemerintahan, legislatif, maupun organisasi masyarakat, kita memiliki tanggung jawab moral yang sama.

Kita harus menciptakan ekosistem yang ramah bagi tumbuh kembang anak-anak bangsa. Dunia pendidikan harus diperkuat, budaya literasi harus ditingkatkan, dan ruang-ruang kreativitas pemuda harus dibuka selebar-lebarnya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu cara merawat masa depannya. Dan masa depan itu ada pada genggaman jemari anak-anak kita hari ini.”

Mari kita jadikan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini sebagai momentum refleksi dan aksi nyata. Mari bersama-sama kita Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026. Bangkitlah Pemudanya, Berdaulatlah Negerinya!