Ruang Rektorat Lebih Bagus Daripada Rumah Tuhan: Mengapa Pembangunan Masjid FISIP Unpas Terkesan Lambat?

"Ingatlah, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol pembinaan karakter dan nilai-nilai luhur Unpas"

LOVEBANDUNG.com : Di tengah hiruk pikuk pembangunan infrastruktur Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, terdapat sebuah ironi yang mengusik hati para sivitas akademika, khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Ironi tersebut adalah lambatnya pembangunan fasilitas Masjid FISIP yang terkesan terabaikan dan tidak menjadi prioritas, lebih dari satu tahun masa pembangunan yang tak kunjung selesai.

Lambatnya pembangunan masjid ini, diiringi dengan minimnya perhatian dan prioritas dari pihak Universitas Pasundan, memunculkan pertanyaan kritis: Apakah pembangunan masjid tidak lagi menjadi prioritas bagi Universitas Pasundan?

Sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan prinsip kesundaan yaitu Pengkuh Agamana (Nyantri), Luhung Elmuna (Nyakola), dan Jembar Budayana (Nyunda), pembangunan masjid seharusnya menjadi simbol komitmen Unpas dalam menyeimbangkan

pendidikan intelektual dengan pembinaan spiritual. Namun, realita yang terjadi justru menunjukkan kesenjangan antara retorika dan aksi nyata dalam realisasi prinsip dan nilai.

Kita hari ini bisa melihat ruang rektorat yang megah dan fasilitas kampus yang modern, berbanding terbalik dengan kondisi Masjid FISIP yang berantakan tak kunjung selesai dan terkesan terabaikan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kenyamanan rektorat lebih diutamakan daripada kenyamanan mahasiswa dalam beribadah?

Lambatnya pembangunan masjid tak hanya menyisakan kekecewaan, tetapi juga memicu keraguan terhadap komitmen Unpas dalam mewujudkan nilai-nilai luhurnya.

Mahasiswa bertanya-tanya, di manakah nilai-nilai Pengkuh Agamana dan Luhung Elmuna jika rumah ibadah pun dianaktirikan?

Lebih memprihatinkan lagi keterlambatan ini tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga praktis. Kapasitas masjid yang ada saat ini tidak mampu menampung seluruh jamaah, terutama pada waktu-waktu sholat wajib dan khusunya pelaksanaan Sholat Jum’at.

Hal ini tentu mengganggu kekhusyukan ibadah dan berpotensi menimbulkan ketidaktertiban dan mengganggu berjalan proses akademik.

Belum sebentar lagi di akhir tahun ini mahasiswa baru akan segera memasuki proses akademik dan tahun ajaran baru yang dapat memicu polemik ketersediaan fasilitas di ruang kampus.

Oleh karena itu, Rektorat Universitas Pasundan perlu segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat pembangunan Masjid FISIP.

Hal ini bukan hanya demi memenuhi kebutuhan spiritual sivitas akademika, tetapi juga sebagai bentuk komitmen universitas terhadap nilai-nilai kepasundanan yang dianutnya.

Sudah saatnya Rektorat Unpas menunjukkan keseriusannya dalam menyelesaikan pembangunan Masjid FISIP. Bukan hanya sekadar janji dan komitmen, tetapi langkah nyata dan prioritas yang terukur.

Ingatlah, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol pembinaan karakter dan nilai-nilai luhur Unpas.

Jangan biarkan ruang rektorat yang megah menjadi satu-satunya simbol kemajuan Unpas.

Buktikanlah komitmen terhadap nilai-nilai Pengkuh Agamana dan Luhung

Elmuna dan Jembar Budayana dengan menyelesaikan pembangunan Masjid FISIP Universitas Pasundan sebagai prioritas pembangunan.

Jadikan masjid sebagai oase spiritual yang menunjang proses belajar mengajar, dan buktikan bahwa Unpas memang kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. Karena Ingatlah, “Rumah Tuhan” adalah tempat suci yang harus diprioritaskan, bukan diabaikan.*

 

Penulis: Ridho Dawam Mulkillah (Mahasiswa FISIP Unpas Bandung)