Rumus Sakti Monumen Perjuangan HMI ISIP UNPAS Cetak Jurnalis Pemula
LOVEBANDUNG.com : Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP) Universitas Pasundan (Unpas) Bandung mengikuti pelatihan menulis cepat dengan “Rumus Sakti” untuk menjadi jurnalis pemula.
“Untuk memulai menulis atau menjadi jurnalis pemula, harus menggunakan rumus sakti, yaitu 5W+1H sebagai dasar membuat berita atau news,” kata Founder Lovebandung.com, Hasriwal Hasibuan, pemateri pelatihan “Menulis Cepat, Mudah dan Benar” dengan Rumus Sakti 5W (What, Who, Why, When, Where) + 1H (How), yang dihelat Bidang Kajian Keilmuan (Kail) HMI Komisariat ISIP Unpas, di Monumen Perjuangan, Kota Bandung, Ahad 9 November 2025 malam.
Menurut Hasriwal Hasibuan yang akrab disapa Bang Hasibuan, menulis itu tidak sulit bila menggunakan metode Rumus Sakti 5W+1H. Tetapi memang, banyak jenis atau ragam tentang tulisan mulai dari penulisan artikel, esai, biografi, fiksi dan non fiksi, news/news hard, televisi bahkan sampai surat cinta.
“Terpenting, kunci utama dalam penulisan berita adalah kemampuan merangkum informasi ke dalam kerangka tulisan dengan dasar 5W+1H. Sehingga, mudah bagi pemula memulai cara membuat suatu news,” ungkap Bang Hasibuan.
Bang Hasibuan menekankan bahwa rumus sakti 5W+1H bukan sekadar teori, melainkan panduan praktis yang harus diperoleh setiap calon jurnalis.
“What (Apa) adalah inti kejadian, Who (Siapa) adalah subjek atau objek yang terlibat, Why (Kenapa) adalah latar belakang atau alasan, When (Kapan) adalah waktu kejadian, dan Where (Di mana). Semua harus terjawab di paragraf awal berita,” ungkap jurnalis senior yang juga Alumni HMI Cabang Medan itu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan peran krusial dari How (Bagaimana), yang berfungsi menjelaskan proses atau kronologi peristiwa secara jelas setelah poin-poin penting dalam 5W tersampaikan.
“Penggunaan 1H ini memastikan berita tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan gambaran utuh kepada pembaca tentang jalannya suatu kejadian,” jelasnya.
Sehingga, berita bisa disampaikan dengan jelas bagi para pembaca. Mulai dari isi, struktur, suasana hingga pesan yang terkandung dalam tulisan.
“Menulis news atau berita harus jelas, penulis harus memahami data, dengan penyusunan kata yang sesuai kaidah jurnalistik, dan kaya perbendaharaan kata,” ungkapnya.
Data atau bahan yang akan dijadikan news harus lengkap dan sesuai fakta, sehingga berita menjadi valid dan dapat dipercaya pembaca.
“Tulisan juga harus membuat pembaca betah membaca sampai akhir. Karena itu, penulis harus memiliki bank data dan wawasan mempuni sebelum menulis suatu berita. Kondisi inilah yang menjadi tantangan sekaligus wahana pembelajaran bagi penulisan yang memulai membuat news,” papar Bang Hasibuan.

Cetak Jurnalis Pemula
Ketua Umum Komisariat ISIP UNPAS, Yodhy Anugrah PY, mengatakan pelatihan ini sangat memberikan motivasi bagi kalangan Gen-Z untuk berani memulai menjadi jurnalis di tengah gejolak politik.
Yodhy menilai, strategi menulis cepat, mudah dan benar, dengan konsep 5W+1H yang dikenal untuk digunakan dalam jurnalisme, dipopulerkan dan diberi nama sebagai metode oleh penulis berkebangsaan Inggris, Rudyard Kipling dalam bukunya berjudul Just So Stories yang terbit pada tahun 1902 atau awal abad ke-20.
“Pelatihan menulis menghadirkan 11 kader HMI diharapkan dapat mengembangkan potensi dan bakat kader menulis,” ucap Yodhy.
Sedangkan, Ayi Aulia salah satu kader yang ikut dalam pelatihan merasa mendapat kesempatan luar biasa, dalam kajian pelatihan menulis dengan metode singkat tidak hanya teori tetapi juga langsung praktik menulis berita dengan rumus 5W+1H.
“Kegiatan ini memberikan pengalaman berharga dalam memahami dasar menulis, terutama dalam menyusun berita yang informatif dan mudah dipahami. Suasana kajian yang interaktif membuat proses belajar menjadi lebih menarik, menyenangkan dan dapat memahami untuk bisa memulai menulis,” ungkap Ayi.
Sekertaris Bidang Kajian Keilmuan (Kail) HMI Komisariat ISIP Unpas, Mahesa Herdiyanto, menyampaikan kegiatan ini merupakan inisiatif untuk meningkatkan kemampuan literasi dan kritis kader di tengah derasnya arus informasi, serta cikal bakal mencetak kader sebagai jurnalis.
“Kami berharap kader tidak hanya menjadi pembaca berita, tetapi juga yang dapat mengembangkan konten yang berkualitas dan terverifikasi, sehingga dapat menangkal penyebaran hoax,” ujar Mahesa.
Dengan bekal pelatihan ini kata Mahesa, para kader HMI ISIP Unpas diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu jurnalistik dasar, khususnya dalam penulisan maupun laporan kegiatan organisasi.
“Langkah nyata ini menunjukkan komitmen HMI dalam mencetak generasi muda yang cakap dalam menyampaikan gagasan dan informasi secara terstruktur, jelas, dan akurat kepada publik,” pungkasnya. (tim)