Anggota DPRD Jabar Syahrir: Keluarga Benteng Utama Pengawasan Digital

Pengawasan Semesta tidak cukup hanya mengandalkan lembaga negara. Benteng terkuat penangkal ancaman siber sejatinya berada di lingkungan keluarga dan sekolah.

LOVEBANDUNG.com, BEKASI : Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, S.E., M.I.Pol., menyerukan gerakan Pengawasan Semesta guna membentengi Generasi Z (Gen Z) dari gempuran hoaks, kejahatan siber, dan pergeseran nilai moral di ruang digital.

Pesan tajam tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker pada acara ‘Ngawangkong Atikan Penyiaran’ bertema “Pengawasan Semesta” yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat (KPID Jabar), di SMAN 6 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/8/2026).

Syahrir menilai ruang digital saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Prostitusi online, judi online, penipuan berbasis internet, hingga provokasi asing yang mengondisikan seolah-olah Indonesia mencekam marak terjadi.

“Tak hanya itu, infiltrasi narasi yang mengikis nilai agama dan norma budaya Jawa Barat serta ajakan aksi demonstrasi anarkis kian gencar menyasar anak muda,” ungkap politisi senior partai Gerindra ini.

Keluarga Benteng Pertahanan

Lebih lanjut Syahrir menegaskan bahwa Pengawasan Semesta tidak cukup hanya mengandalkan lembaga negara. Benteng terkuat penangkal ancaman siber sejatinya berada di lingkungan keluarga dan sekolah.

Dikatakannya, pengawasan ketat orang tua dan guru terhadap penggunaan gawai anak menjadi kebutuhan mendesak.

“Masyarakat dituntut membudayakan prinsip menyaring sebelum membagikan informasi, tanpa menelan mentah-mentah konten yang beredar,” kata Syharir.

Bagi Syahrir, kebebasan demokrasi harus dibarengi dengan tanggung jawab moral, bukan dimanfaatkan untuk menyebar fitnah, kebencian terhadap pemerintah, maupun disinformasi. Pelajar pun diimbau tidak ragu melapor jika menemukan konten bermasalah.

“Jangan biarkan informasi mengendalikan kita, kitalah yang harus mengendalikan bagaimana informasi mempengaruhi kehidupan kita,” ujar anggota Komisi I DPRD Jawa Barat ini.

Ancaman Algoritma dan Pergeseran Religiusitas

Sebelumnya, Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menyebut ruang digital hari ini berpotensi merusak cara berpikir generasi muda jika tidak diawasi secara ketat.

“Hingga Agustus 2026, KPID Jabar mencatat sedikitnya 263 aduan masyarakat terkait penyiaran dan konten bermasalah via Sapawarga, hotline, dan media sosial,” kata Adiyana.

Langkah taktis kolaborasi lintas sektor ditempuh mengingat Gen Z mendominasi 52 persen populasi Jawa Barat.

“Riset media berbasis internet (5+1) mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kehidupan anak muda kini lebih didikte oleh algoritma dibanding regulasi negara, yang berujung pada penurunan nilai religiusitas hingga 56 persen pada kelompok Gen Z.

Menurut Adiyana, mengonsumsi informasi sesat di media sosial sama beresikonya dengan mengonsumsi narkoba.

Langkah Konkret Sektor Pendidikan

Merespons ancaman tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Disdik Jabar, Rina Parlina, memastikan program edukasi Pengawasan Semesta akan langsung diimbaskan ke lingkungan sekolah.

“Langkah ini diambil untuk melatih pola pikir kritis siswa agar mampu memilah tontonan yang edukatif, aman dari narasi liar, dan sesuai dengan batasan usia,” kata Rina.

Acara ‘Ngawangkong Atikan Penyiaran’ bertema “Pengawasan Semesta” di SMAN 6 Tambun Selatan, dihadiri Wakil Ketua KPID Jabar Almadina Rakhmaniar, Koordinator Bidang Kelembagaan KPID Jabar, Lukman Munawar Fauzi, Kepala Sekolah SMAN 6 Tamsel Dhayu Selasi Pengestuningsih, dan Wakasek SMAN 6 Tamsel Ustadz Dede Ismail. (arh)