Serumpun Bambu Sejuta Karya: Upaya Pemerintah Lestarikan Tradisi Kriya Bambu
Serumpun Bambu, Sejuta Karya ini menjadi puncak dari proses transfer ilmu intensif selama 30 hari antara Maestro Kriya Bambu Jatnika Nanggamiharja dengan generasi muda terpilih.
LOVEBANDUNG.com, CIBINONG – Kementerian Kebudayaan sukses menyelenggarakan rangkaian penutup program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026 bertajuk Pagelaran & Syukuran Belajar Bersama Maestro Bambu dan Senam Kebudayaan Indonesia di Yayasan Bambu Indonesia, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (15/8/2026). Acara yang mengusung tema Serumpun Bambu, Sejuta Karya ini menjadi puncak dari proses transfer ilmu intensif selama 30 hari antara Maestro Kriya Bambu Jatnika Nanggamiharja dengan generasi muda terpilih.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nyata kementerian untuk merawat ekosistem seni sekaligus menjadi wadah pengembangan talenta budaya bagi generasi muda agar tradisi kriya bambu tetap lestari,” ujar Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan.
Dalam perhelatan tersebut, lima peserta program BBM memamerkan hasil karya berupa Saung Ranggon atau rumah panggung berbahan bambu yang diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Turut hadir dalam kesempatan ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi; Ajudan Presiden RI, Brigjen TNI Angkatan Udara Anton Palaguna; Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Negeri Saint Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie; Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, Nasrullah; Anggota DPRD Povinsi Jawa Barat, Ricky Kurniawan; Maestro Kriya Bambu, Jatnika Nanggamiharja; Maestro Tari Bedhaya, Sulistyo Tirtokusumo; Maestro Lenong Betawi, Jaja Miharja; budayawan Adi Bing Slamet, peserta program BBM Kriya Bambu, pegiat budaya, seniman, serta komunitas bambu Cibinong dan Cimande.
“Indonesia adalah negara dengan keragaman budaya yang sangat kaya, dan ragam ekspresi tersebut harus terus digali guna menumbuhkan rasa penghargaan terhadap akar budaya kita sendiri, termasuk seni kriya bambu,” tegas Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon juga menyoroti keterikatan historis antara masyarakat Indonesia dengan tanaman bambu yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama berabad-abad. Bambu tidak hanya sekadar material bangunan, melainkan simbol peradaban yang mampu beradaptasi dari peralatan rumah tangga hingga alat perjuangan masa lampau.
“Bambu ini sangat akrab dengan peradaban kita, mulai dari rumah bambu hingga manuskrip bambu. Karena kita hidup dengan alam, jadi bambu adalah salah satu peradaban yang sudah menjadi medium hidup bersama sejak lama. Selain itu, bambu juga digunakan untuk kehidupan sehari-hari, misalnya untuk perkakas rumah tangga, bahkan untuk perjuangan pun kita menggunakan bambu, yaitu bambu runcing,” jelas Menteri Fadli.
Selain para pejabat tersebut, hadir pula Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, I Made Dharma Suteja; serta Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo; dan Dewan Penasihat Menteri, Putu Supadma Rudana serta Batara Richard Hutagalung yang turut mendukung keberlangsungan program ini.
“Melalui program Belajar Bersama Maestro 2026, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga mengalami langsung proses pewarisan nilai dan pengalaman praktik budaya yang diharapkan dapat terus dikembangkan oleh generasi muda melalui semangat berkarya bersama masyarakat,” tutup pernyataan resmi pihak kementerian. (lvb)